Hari itu ulang tahunku yang kesepuluh, dan
aku akan merayakannya dengan pesta yang paling meriah. Daftar
undangannya, yang kutulis di bagian belakang map tugas sekolah, dimulai
dengan beberapa teman dekat. Tapi selama dua minggu sebelum malam
Jumat yang istimewa, daftar itu dengan cepat bertambah panjang dari
sepuluh anak perempuan menjadi dua puluh. Hampir semua anak perempuan
sekelasku mendapat undangan menginap di rumahku untuk sebuah perayaan
besar. Aku sangat bahagia ketika setiap tamu yang kuundang dengan penuh
semangat menerimanya. Malam itu akan diisi dengan cerita seram, piza dan
banyak hadiah. Tapi seperti yang kemudian kusadari,
aku hanya akan benar-benar menghargai satu hadiah yang kuterima malam
itu. Ruang keluarga dipenuhi hingar
bingar teriakan dan gelak tawa. Kami baru saja selesai bermain kartu,
Limbo, Twister, ketika bel pintu berdering. Aku tidak menaruh perhatian
pada siapa yang datang. Untuk apa? Semua teman sekolah yang kusukai
ada di sini, di dalam ruang keluargaku. "Judy, kemari sebentar", Ibu
memanggil dari pintu depan, aku memutar bola mata dan mengangkat
bahu ke arah teman-temanku seolah mengatakan. "Ya ampun, siapa yang berani
menggangguku sekarang?". Yang sebenarnya ingin kukatakan adalah
"Susah jadi orang terkenal!" Aku berbelok menuju pintu
depan, lalu berhenti. Aku tahu mulutku menganga dan wajahku
terasa memerah, karena di sana di beranda depan berdiri Sarah Westly
anak perempuan pendiam yang duduk di sebelahku di kelas musik dan ia
memegang sebuah bungkusan kado. Di kepalaku terbayang daftar undangan
yang semakin panjang di bagian belakang map tugas sekolahku.
Bagaimana aku sampai bisa lupa mengundang Sarah? Lalu kuingat bahwa
aku hanya menambahkan sebuah nama ke dalam daftar ketika seseorang menunjukan rasa
tertarik kepadaku. Tapi Sarah tidak pernah melakukannya. Tak pernah sekali
pun ia menanyaiku tentang pesta ulang tahunku. Tak pernah
sekalipun ia masuk ke dalam lingkaran anak-anak yang mengitariku pada saat makan
siang. Dan ia bahkan pernah membantu membawakan ranselku ketika
aku terengah-engah menyeret proyek ilmiahku ke ruang kelas kami di
lantai tiga. Kurasa aku lupa mengundangnya hanya karena ia tidak
minta diundang. Kuterima hadiah dari Sarah dan kuajak ia bergabung dalam
pestaku. "Aku tidak bisa tinggal" katanya, menunduk.
"Ayah menunggu di mobil." "Masuk sebentar, yuk?"
kataku nyaris memohon. Saat itu aku merasa sangat tidak enak telah
lupa mengundangnya dan benar-benar ingin ia
tinggal "Terimakasih, tapi aku harus pergi."
Katanya, berbalik ke arah pintu. "Sampai ketemu
hari Senin." Aku berdiri di lobi dengan kado Sarah di
tanganku dan perasaan kosong dalam hatiku. Aku baru membuka hadiah
itu berjam-jam setelah pesta berakhir. Di dalam kotak kecil itu
terdapat seekor kucing keramik setinggi sekitar tujuh setengah centimeter
dengan ekor mengacung ke udara. Menurutku itu adalah hadiah terindah
yang kuterima, meski aku tidak pernah benar-benar menyukai
kucing.
Saat itu aku tidak tahu, tapi
sekarang aku sadar bahwa Sarah adalah satu-satunya sahabat
sejati masa kecilku. Sementara anak perempuan lain satu persatu pergi
meninggalkanku, Sarah selalu mendampingiku, selalu setia dan mendukung.
Ia adalah seorang teman tanpa syarat yang selalu menolongku, selalu
memberikan dorongan dan memahamiku. Aku selalu menyesali kecerobohanku
lupa mengundang Sarah. Tapi aku juga menyadari satu hal. Aku mungkin
takkan pernah mengetahui Sarah adalah seorang teman sejati kalau saat itu
aku ingat mengundangnya ke pesta ulang tahunku.
By : Judith Burnett